Monday, August 31, 2009

Quotes For This Semester

Greg Mankiw asked to pick 15 Harvard's freshman to took his Seminar (linked on books's suggestion). Simply, he could fill up the class with top fifteen highest SAT (like Hasil Ujian Nasional). Here's the answer...
...but I won't, as there is more to life than test scores. I am looking also for passion about the subject, interesting life experiences, and a balance among the group of students to promote good discussion...
Pure inspiration for students who looking for an alibi [read: why they have middle-low or lower GPA] -> including me..laugh..I agree that a group student like me (middle-lower grade) will make class discussion more "lively"

Thanks Professor Mankiw, moreover for your books suggestions.

Read More ..

Friday, August 28, 2009

Blog Update: "Read More" Things

I've made some improvement on our beloved blog. To simplifyi main page, Kigendeng posting will not fully displayed. So, kigendeng add "read more" link. To open whole posting just click the "Read More" link...Hopefully you'll enjoyed. But, sorry for everyone, who feel inconvenience. Thanks

Read More ..

Atheist Must Concern...

This picture below is taken from fourblockworld.com. I found this link from Jahen's blog.

I think believe in God still our optimum strategy.

Read More ..

"Simalakama" Taste Sweet

Indonesian people shocked. Sugar price nowadays reach Rp. 10.500. Even in Ramadhan season, this price booming seems unexplainable. But, it still interesting that how people blame world market for sugar booming

There was a dilemma. Like other food commodity, sugar farmer feel normal sugar price are too low. On January 2009 (Kompas, 27 August 2009) price of rafinated sugar only $310 per tons. Fantastically, in 24 August price bounce up to $615 per tons. World price fluctuation is pointed out as main factor, which lead domestic price going higher. Sugar farmer looked happy, not so consumer (also me). Just like eating simalakama fruit, our ancestor said.

So, it's fair to blame the world market? It is true that our circumstance will get better if we going to autarky? I don't think so. Sucofindo co. assumed that our domestic production was only 2,74 million ton per year. Our Industrial (middle-higher scale) consumption is about 1.054.121 ton per year. At household level, we consume 11,86 kg per capita (since we have 200 million people, it means we consume 2.372.000 ton per year). From those sector, exclude household industry and small-scale industry, we need 3.426.121 ton per year. The only way is doing import.

Increasing import tariff idea and stop sugar import truly unrealistic. For short-run solution we need import. Further, we must consider on how we strengthen our supply side (more productivity) than consider on banning sugar import or close our sugar trade.

Yes, it's like eating simalakama fruit, but this one taste sweet

Read More ..

Thursday, August 27, 2009

Gorontalo, The Black Swan of Indonesia


We, Indonesian, or may be people in whole world commonly accept that there are such a gender discrimination in daily life. I'm not going to ignore that, especially from my Indonesia point of view about education.We know about great struggle of Kartini at the past against Javanese culture named "pingitan". (Women are believed to stay at home and didn't need to got education experience.)

In modern days, may be "pingitan" was no more than folklore. But, data told the truth. Selected Social-Economics Indicators of Indonesia 2008 reported that there are some gap on gender term in Indonesian education. Adult literacy rate in Indonesia for Male reach 94,56% , for female just 88,39%. . Further, Mean years of schooling told similar sense. Indonesian male spend 7,9 years for schooling but female group only spend 7 year (approximately just finished elementary school.


Nassim Nicholas Taleb proposed The Black Swan Theory. There are some rare event beyond our normal expectations. We need not traveling to Western Australia in purpose to see the black swan (on denotative meaning). Let's us flight to Gorontalo (another new province after decentralization in Indonesia). On paragraph above, we saw such a disrimination by gender on Indonesian education. Women got less. But not at Gorontalo. Gorontalo's female have spend 7 years for shooling but their male spend 6,5 years. Same story on adult literacy rate, approx. 95,93% women an read, when only 95,47% of male.

I still couldn't explain why. Even a matrilinealistic culture like Minangkabau have, the data follow same pattern like normal gender disrcimination (adult literacy rate and mean years for schooling for women is less than male group). The Black Swan theory seems true. But, I also interested of one exciting fact. In Indonesia 79,6% of women have used contraceptive but 84,98% Gorontalo's women have it. It looks like there are some correlation between eduation and demographic problem, especially facing population booming.

Read More ..

Tuesday, August 25, 2009

BOP-B: Just an Ideas (part 2)

(melanjutkan posting sebelumnya)...Apa arti 3 langkah perubahan yang kita lakukan?
Melalui lembaga yayasan beasiswa yang dikelola Universitas (sebut saja suatu saat UI punya yayasan "Makara Foundation") dan kerjasama badan khusus pengkoordinir dana beasiswa departemen pemerintah, informasi akan tersalurkan seara lebih fokus. Peserta didik yang ingin masuk di PTN tertentu langusng berhubungan dengna pihak bersangkutan. Tidak menutup kemungkinan juga mencari sendiri lembaga swasta.(ingat problem 1).

Berikutnya revolusi kebijakan fiskal terfokus untuk memperbanyak jumlah penyedia scholarship. Sasarannya jelas perusahaan-perusahaan besar. Apalagi melihat kenyataan banyak perusahaan besar yang menunggak pajak. Lebih baik memberikan mereka keringangan lewat kompensasi pendidikan.(ingat problem 2). Setidaknya ada 3 makna penting dari pola ini.

Pertama, perubahan paradigma dari meminta keringanan menjadi usaha mencari tambahan dana, hal ini juga mempersiapkan mahasiswa Indonesia bersekolah ke luar negeri. Kedua, ada perubahan moral hazard, keringanan BOP-B memang menyediakan biaya yang ringan tapi (tanpa mengurangi respek terhadap mahasiswa penerima BOP-B) hal ini tidak berpengaruh banyak pada motivasi mereka. Lewat beasiswa, mahasiswa kurang mampu justru terpau untuk belajar lebih giat yang menjadi human capital tersendiri bagi mereka di masa depan.

Ketiga, sistem ini membantu kemudahan transparansi keuangan universitas. Dana operasioanal dihitung seara tepat (sesuai proporsi yang boleh ditanggung peserta didik), lalu di bagi sejumlah kapasitas mahasiswa. Sehingga merek bisa memprediksi dengan baik kekurangan dana dan bisa fokus mengalokasikan dana untuk researh. Sistem ini juga meningkatkan tingkat fairness penerimaan mahasiswa. Tidak ada alasan mahasiswa diterima karena ia lebih "berduit" (lewat jalur tambahan diluar jalur resmi) daripada calon lain yang punya kompetensi lebih namun kemampuan finansial lemah, sebab dana operasional sudah diperhitungkan sebelumnya.

Skema ini masih "jauh api dari panggang", tetapi bukan tidak mungkin. Semoga pendidikan Indonesia menjadi lebih baik.

Read More ..

Monday, August 24, 2009

BOP-B: Just an Ideas (part 1)

Keywords: fixed tuition fee, beasiswa, swasta, PTN, dan kebijakan fiskal,

Apa yang coba diangkat sebenarnya merupakan sebuah skema pembiayaan. Pola yang selama ini didominasi oleh pemerintah sedikit berubah dengan memasukkan unsur swasta. Ide ini di mulai, setelah melihat betapa sistem BOP-B yang berbasis price discrimination sering meninggalkan masalah. Assymetric information, distorsi perilaku, dan "kebocoran" (karena tidak mampu menangkap willingness to pay tiap individu). Sebuah inefisiensi atau dalam bahasa non-ekonominya terjadi ketidakadilan.

Berangkat dari kondisi tersebut kigendeng justru cenderung menawarkan penghapusan BOP-B. Alternatifnya justru sebuah sistem fixed tuition fee artinya seluruh biaya ditanggungkan ke peserta didik dengan besar biaya yang sama. Menutup kesempatan orang miskin? Di sinilah peran swasta dan pemerintah bertemu. "Keadilan" yang dituju dicapai lewat sebuah program beasiswa. Peserta didik yang merasa tidak mampu harus mencari beasiswa untuk membayar uang kuliah. Sedikit kejam? Poin utamanya adalah mengalihkan bentuk keringanan pendidikan menjadi beasiswa. Sebuah perubahan paradigma dari mengharap keringanan menjadi mencari tambahan pembiayaan.

Sumber beasiswa diharapkan berasal dari 3 scholarship agent. Pihak swasta (perusahaan), pemerintah, dan universitas. Lubang besar dari ide ini ada 2, yaitu sulitnya akses informasi beasiswa (problem 1) dan jumlah pendonor (problem 2) termasuk besar dana yang tersedia untuk beasiswa. Satu-persatu akan kita bahas.

Dua problem itu dapat dipecahkan jika ketiga scholarship agent berfungsi dengan optimal. Caranya, paling tidak ada 3 hal yang harus dilakukan:
1. Yayasan Beasiswa PTN.Pihak Universitas seharusnya memiiki satu yayasan tersendiri yang khusus menyediakan beasiswa bagi peserta didik.
2. Beasiswa Departemen.Tiap departemen kementerian harus memiliki alokasi dana beasiswa untuk tingkat perguruan tinggi. Selanjutnya dikoordinir oleh pemerintah dibawah Depdiknas agar dikelola database-nya sehingga bisa disosialisasikan kepada PTN
3. "Menjamurkan Beasiswa".Pemerintah membuat sebuah revolusi kebijakan fiskal dengan memberi keringanan pajak pada perusahaan yang mempunyai CSR berupa yayasan beasiswa atau pendidikan (sebab pada umumya scholarship foundation lebih sering menjadi tax avoidance alih-alih tanggung jawab sosial)

Read More ..