Saturday, May 2, 2009

Emmanuel Saez dan "Euforia" Fiskal



Tahun 2009 ini tampaknya benar-benar menjadi tahun fiskal
Selain berlomba-lombanya negara-negara pasien flu "finansial" menebus resep stimulus fiskal, dan kembali fiskal menjadi primadona, kali ini dalam penganugerahan John Bates Clark Medal.
Adalah Emmanuel Saez dari U.C. Berkeley yang mengangkat tema seputar optimal taxation dan isu wealth distribution berhak mendapt anugerah paling bergengsi bagi ekonom di bawah 30 tahun.

Mungkin ke depan isu-isu fiskal memang masih menjadi isu yang seksi untuk diperbincangkan ditengah mandulnya kebijakan moneter. Untuk Indonesia masalah pajak masih merupakan tantangan sendiri mengingat masih "muda"nya UU Perpajakan kita.

Bagaimanapun juga Selamat untuk Emmanuel Saez, dan jangan heran mungkin dua puluh tahun kemudian orang yang sama berdiri di Stockholm mengikuti jejak Paul Samuelson, Kenneth Arrow, Milton Friedman, Joseph Stiglitz, dan Krugman (para alumnus John Bates Clark medal)

untuk info lebih dalam mengenai penghargaan ini dan Emmanuel Saez silahkan klik link di bawah
http://www.vanderbilt.edu/AEA/clark_medal.html

Read More ..

Monday, April 13, 2009

Masih Kompetitifkah PEMILU (2009) kita?

Pemilu (tahap 1) legislatif sudah berlalu, tentu menyisakan banyak persoalan entah isu kecurangan, kekecewaan pihak yg kalah, DPT yang kacau, bahkan klaim "Pemilu terburuk dalam sejarah" (oleh seorang CaPres yang sangat mencintai petani).

Namun, apapun itu, lewat "mainan baru" bernama QuickCount masyarakat bisa melihat gambaran hasil Pemilu 9 April ini sembari menunggu tabulasi resmi KPU.

Berikut hasil menurut Lembaga Survei Indonesia: (http://www.lsi.or.id/riset), margin errror 0,9. dengan confidence interval 99%. (saat posting ini dibuat)

1. Demokrat -----------------20,5%
2. PDI Perjuangan -----------14,2%
3. Golkar --------------------13,9%
4. PKS----------------------- 8%
5. PAN ----------------------5,8%
6. PPP -----------------------5,2%
7. PKB -----------------------5,1%
8. Gerindra ------------------4,5%
9. Hanura --------------------3,8%
10. sisa lainnya 18,9% ---karena sisa 35 partai, maka asumsikan perolehan rata 0,54%

Sekarang mari berkenalan dengan rumus Herfindahl-Hirschman Index. HHI dikenal dalam industrial economics, sebagai pengukur market concentration. Metodenya dengan meng-kuadratkan market share perusahaan dalam suatu kompetisi lalu menjumlahkannya (sum). Semakin tinggi HHI maka ada indikasi monopoli yang kuat (angka terbesar 10,000) dan berarti tidak ada persaingan yang kompetitif. Market share adalah persentase dari sales sebuah perusahaan dalam suatu pasar.

Namun, mari kita sedikit bermain-main dengan data partai diatas. Tentu kita setuju bahwa indikator "sales" dari jualan janji politik saaatkampanye adalah "suara". Maka bisa dikatakan angka dalam persen diatas sama saja dengan market share peserta Pemilu.

artinya HHI = ((20,5)^2 + (14,2)^2 + (13,9)^2 + ...)) = 1010,686
menurut teori bila HHI berada antara 1000-1800 maka terjadi moderate concetrated (nb: bila <1000>1800 ada highly concentrated atau monopoli).
Perhitungan kita menunjukkan HHI Pemilu 2009 adalah 1010,686 berarti adanya indikasi terkonsentrasinya suara pada beberapa partai tertentu..Implikasinya tidak lain adalah persaingan oligopolistik, artinya partai2 akan bersikap seperti pelaku usaha di pasar oligopoli entah bernama "koalisi", akuisisi partai kecil, dll.

Masihkah Pemilu kita kompetitif? Data mengatakan tidak, tetapi sebenarnya hal itu bukan masalah justru ada indikasi baik bahwa suatu saat (in the longrun) sesuai perilaku oligopoli jumlah partai akan mengerucut. Namun, tentu politik bukan sesimpel persaingan usaha industri, banyak irasionalitas dan anomali yang terjadi.

Read More ..

Thursday, March 12, 2009

Fiskal dan Sepakbola, keluhan dari Lyon



Kompas, Jumat, 13 Maret 2009 | 05:21 WIB

Presiden Klub Lyon Jean-Michel Aulas mengatakan, kegagalan klubnya juga harus menjadi tanggung jawab penyelenggara sepak bola di Perancis. Menurut dia, struktur sepak bola Perancis sangat tidak kuat. Klub Perancis juga kalah bersaing secara finansial dengan klub Eropa lainnya.

...Menurut Aulas, klub-klub Eropa di luar Perancis bisa maju karena didukung kebijakan pemerintah, seperti keringanan pembayaran pajak.

Sebuah bentuk kritik yang unik dari Aulas cukup menarik diperhatikan. Apalagi jika mengingat postingan sebelumnya dalam Liga Sepakbola Terbaik... yang mencoba melihat kemungkinan pengaruh kebijakan fiskal dalam sepakbola. Walaupun disadari Aulas dan penulis memandang dari perspektif yang sedikit berbeda, hal ini makin menguatkan adanya pengaruh kebijakan fiskal sebuah negara dalam perkembangan sepakbola mereka. Sebuah hipotesa yang masih kabur tapi cukup terbukti.

Read More ..

Sunday, March 8, 2009

Status Quo Hutan? Sebuah tinjauan teoritis* (part 2)

Masalah Penebangan Hutan

Lanjutan dari posting pertama, titik sepanjang FUPC inilah yang seharusnya menjadi dasar kebijakan pemerintah menentukan kebijakan kehutanan. Misal, Pemerintah menetapkan Qo dengan pertimbangan ekologis dan ekonomis yang dianggap optimum, karena seharusnya Qo adalah fungsi dari utilitas ekologis dan utilitas ekonomis , atau Qo (E, P)…….[1]. Qo dianggap memenuhi nila Po dan Eo tertentu yang sudah dipertimbangkan. Dari kesimpulan ini, kita ajukan sebuah persamaan,
Qo = QL…………….[2]
Dengan QL adalah legal logging atau jumlah HPH yang boleh terbit, implikasinya, QL, tidak lain adalah suatu jumlah yang ditentukan pemerintah atau Qo artinya kuantias pohon yang legal ditebang adalah sama dengan kuantitas optimum yang ditentukan pemerintah dengan mempertimbangkan trade-off utilitas ekologis dan ekonomis hutan (persamaan [1]). Sekarang, kita lihat persamaan berikut
QT = QL + QIL….…[3]
Lihat, bahwa QT adalah jumlah total seluruh pohon di hutan. Maka logis bila kita sebut bahwa QT terdiri dari QL (pohon yang boleh ditebang, legal logging) dan QIL, pohon yang tidak boleh ditebang (potensial illegal logging).
Lihat pula bahwa, QIL = QIL* + QILf……………[4]
Persamaan [4] ingin menunjukkan secara spesifik bahwa sebenarnya QIL sendiri adalah sebuah potensi, yang terdiri dari QIL* (jumlah illegal logging yang terjadi) dan QILf , yaitu jumlah pohon yang tidak boleh ditebang dan tetap tidak ditebang. Maka ada 2 kondisi yang mungkin terjadi. (1) QIL = QIL* , yang berarti illegal logging ekstrim (out of control) dan QIL = QILf, yang dapat dikatakan sebagai kondisi ideal karena kuota pohon diluar HPH tetap jumlahnya.
Sebelumnya kita mengetahui QL adalah sebuah titik optimum yang telah ditetapkan sesuai persamaan [1], sehingga apabila QIL dimanfaatkan, atau pada kasus illegal logging, terjadi Qo + (QIL atau QIL*) > Qo, maka QIL atau QIL*menjadi excessive (karena melebihi titik optimum (Qo) . Secara teoritis dapat digambarkan bentuk eksternalitas negatif dari excessive logging ini dengan:















Sesuai buku Economic for Public Sector (Joseph E. Stiglitz: 2000), kita ketahui kegiatan excessive termasuk illegal logging (yang terbukti sesuai persamaan [3] sebelumnya) akan menghasilkan eksternalitas negatif. Terlihat karena pada QL+(QIL atau QIL*) Marginal Social Cost lebih besar dari Marginal Private Benefit (MSC > MPB). Terjadi inefesiensi karena seharusnya titik efisien ada pada QL, tetapi di pasar terbentuk keseimbangan dengan QL+QIL*. Tentu saja banjir, kepunahan hayati, dan bencana alam menjadi ancaman (dari sisi ekologis) yang siap menanti

Teorema di atas tentu masih merupakan pemikiran mentah penulis yang terusik tentang permasalahan hutan. Dapat dilihat pada data statistik, betapa kerusakan hutan sudah mengkhawatirkan. Namun, pada dasarnya pemikiran mentah di atas ingin menyampaikan setidaknya tiga pesan penting. (1) Melalui analisa pada bagian Forest Dilemma, perlu dievaluasi apakah dalam penentuan HPH, pemerintah sudah menghitung trade-off antara utilitas ekologis dan ekonomis hutan, tentu perlu kerjasama intensif antara economist dan enviromentalist (dalam analisa AMDAL). (2) Reformasi birokrasi adalah hal mendesak dilakukan karena kausal utama “bocornya” HPH adalah suap dan sistem birokrasi bawah meja, (3) Perlu disinsentif ekonomi yang tepat untuk menyelesaikan sengketa hutan karena hutan bukan melulu masalah lingkungan tetapi sudah memasuki ranah ekonomi.

Read More ..

Status Quo Hutan? Sebuah tinjauan teoritis* (part 1)

Berawal dari sebuah tugas PBL di kampus FEUI , mengenai analisa kebijakan publik dalam kasus illegal logging di Riau (artikel MetroRiau ,“Pembalakan Liar Masih Menghantui”, 1 April 2008), terlintas dipikiran penulis mengenai sengketa hutan yang tampaknya tidak pernah berhenti. Sebagai homo economicus, apa yang dilakukan penulis adalah mencoba melihatnya dari sudut pandang tersendiri.

Forest Dilemma

Tarik-menarik fungsi hutan sangat menarik kita jadikan titik tolak untuk membahas sengketa hutan. Sekarang, mengadaptasi salah satu tools analisis ekonomi, kita akan coba melihat masalah ini in economics common sense. Asumsi awal kita adalah ada dua fungsi hutan (secara garis besar) yang menjadi trade-off dalm pemanfaatan hutan. Pertama, adalah fungsi eksternalitas positif hutan seperti menahan banjir, habitat satwa, dan sebagai “paru-paru” dunia, nantinya kita sebut sebagai utilitas ekologis (E) hutan. Pada sisi lain, hutan menyimpan potensi ekonomi yang terkandung pada kayu ataupun hasil hutan lain yang mendorong manusia “merusak” hutan, yang akan kita sebut utilitas ekonomis (P) hutan. Secara grafis, kita dapatkan hubungan E dan P sebagai berikut:















Grafik FUPC (Forest’s Utilities Possibility Curve) di atas menjelaskan adanya trade-off dalam pemanfaatan utilitas hutan. Apabila kita menggunakan hutan pada utilitas ekologis saja, E max atau P= 0, hal ini terjadi pada kasus hutan lindung. Sebaliknya, apabila E= 0, maka kita gunakan seluruh P atau E= 0 , mungkin terjadi apabila kita membabat suatu hutan habis entah demi kayu ataupun untuk membuka lahan pertanian. Pada kasus P*, adalah kasus umum sebuah hutan dimana kedua fungsi E maupun P diperebutkan. Apabila manusia ingin meningkatkan fungsi ekonomis (P*-->P**, P*>P**) maka lewat mekanisme penebangan kita dengan sendirinya mengurangi utilitas ekologis hutan (E*-->E**, E*< E**).

* Teroritis yang dimaksud tentu bukan teori ekonomi yang terbukti. Berasal dari pemikiran kigendengwaras (penulis) sendiri, sehingga bisa dikatakan ini merupakan sebuah jurnal mini dari sakit kepala memikirkan hutan yang dirasakan oleh kigendengwaras dan dirasa perlu dilampiaskan dalam suatu bentuk tulisan bergambar.

Read More ..

Wednesday, February 25, 2009

Liga Sepakbola Terbaik di Dunia (sebuah tinjauan Insentif Fiskal)

Sepakbola modern bukan lagi permasalahan teknik, supporter, dan kebanggan klub belaka. Sepakbola sebagai sebuah industri yang bergerak sesuai prinsip-prinsip ekonomi. Mudah saja mengatakan Eropa sebagai kiblat sepakbola dunia saat ini. Klub-klub Eropa mengiming-imingi pemuda-pemuda bertalenta dari seluruh pelosok dunia untuk bermain di klub mereka. Persaingan yang menggelitik penulis untuk menjawab pertanyaan “siapakah yang akan menjadi liga sepakbola terbaik?”

Pertanyaan ini tidak akan dijawab dengan cara normal. Mari kita keluar sedikit dari pola pikir teknis ataupn kecintaan pada klub atau liga kesayangan masing-masing. Kita persempit ruang data kita dengan mengambil Italia, Spanyol, Belanda, Inggris Jerman sebagai perbandingan (keempat negara tadi tidak dapat disangkal lagi sebagai negara-negara Eropa dengan tradisi sepakbola yang kuat, tanpa maksud mengesampingkan liga-liga potensial seperti Perancis, Rusia, dll). Kemudian asumsikan liga terbaik adalah liga berisi klub-klub yang mampu menyedot pemain-pemain bintang sebanyak-banyaknya. Saatnya menggunakan common sense ekonomi kita. Seorang pesepakbola sejatinya merupakan homo economicus yang tergerak berdasarkan insentif (prinsip dasar ekonomi). Jika diibaratkan secara ekonomi kita dapatkan fungsi preferensi pemain (P) di sebuah klub/liga dapat kita tulis sebagai

P ( W)

sedangkan untuk fungsi preferensi pemain bintang (P*)

P *( W,t)

Artinya jika pemain biasa preferensinya hanya dipengaruhi gaji (W), maka preferensi pemain bintang di sebuah klub yang dipengaruhi dua faktor ekonomi yaitu, gaji (W) dan individual income tax rate (t), karena gaji yang tinggi akan tergerus pajak secara progresif pula. Sekarang asumsikan bahwa tiap klub di dunia punya purchasing power yang sama dan menghadapi budget constraint yang sama pula. Implikasinya, jika “Pipo” Inzaghi mau bergabung asalkan dibayar 40 juta dollar, maka baik Ajax , Manchester, dan Napoli bersedia membayar dengan jumlah tersebut. Lalu, apakah yang mempengaruhi pilihan sang pemain? Ya, pajak penghasilan yang harus dia tanggung. Sekarang, mari kita lihat tabel perbandingan dari sumber www.worldwide-tax.com di bawah ini: (asumsi tambahan, sulitnya mencari tingkat pajak untuk ekspatriat memaksa penulis menganggap income tax pribumi sama dengan ekspatriat)

Negara............ Individual Income Tax (progressive)
-----------------------------------------------------------------
Spain.........................................20-40%
Italy..........................................23-43%
England.....................................24-43%
Netherlands...............................0-52%
Germany...................................15-45%

Dengan mengambil patokan tax rate tertinggi maka sepatutnya Inzaghi lebih memilih bermain di Liga Spanyol (40%), dia tidak akan bermain di Liga German (43%) apalagi di di Liga Belanda (52%,) yang berarti memotong lebih dari setengah penghasilannya!

Melihat tabel di atas kita maka dapat diurutkan bahwa liga terbaik dunia adalah, liga Spanyol, liga Italia, liga Inggris, liga Jerman, dan terakhir liga Belanda. Liga Spanyol adalah yang terbaik, atau (karena hanya selisih 1-2%) dapat dikatakan liga spanyol, itali, dan Inggris adalah liga terbaik Eropa.Tentu dengan memakai logika liga terbaik adalah liga yang mampu menyedot pemain bintang sebanyak-banyaknya. Pemain bintang sebagai makhluk rasional tentu akan memilih tempat dengan pajak rendah. Lebih realistis, hipotesa ini mungkin dapat menjelaskan mengapa liga Belanda dan Liga Jerman mempunyai sedikit sekali pemain bintang (bergaji tinggi) padahal Belanda tiap tahunnya menghasilkan pemain-pemain muda berbakat. (mungkin bisa menjadi saran bagi pemerintah Belanda dan Jerman untuk memangkas pajak untuk mengembangkan liga mereka.

Tentu tulisan ini sama sekali bukanlah sebuah kesimpulan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Banyak sekali faktor-faktor baik ekonomi maupun non-ekonomi yang diasumsikan ceteris paribus. Tetapi sangat menarik melihat bagaimana adanya kemungkinan fiscal policy sebuah negara mempengaruhi dunia sepakbola.

Nb: Tidak ada tendensi apapun pada tulisan ini. Meskipun dalam tulisan ini Liga Spanyol adalah yang terbaik, penulis tetap dalam keyakinan teguh bahwa liga Italia adalah yang terbaik, dan klub terbaik tentu saja Juventus !

Read More ..

Wednesday, February 11, 2009

Sebuah Kritikan terhadap Diri Sendiri: Layakkah Saya Menjadi Ekonom

Empat jam berlalu begitu saja. Kejernihan dan kejeniusan pemikiran
Steven D. Levitt, menghipnotis sejenak pikiran ini . Freakonomics, luar biasa menyenangkan sekaligus menyentak intelektualitas yang tampaknya sedang pulas dibelai kesibukan kuliah, kepanitiaan, dan obrolan politik kampus yang ngalor-ngidul khas warung kopi. Levitt menyentil kesadaran saya sebagai seorang calon sarjana ekonomi, alias seorang ekonom. Kemampuannya mengolah data-data dan tools ilmu ekonomi, mampu menjelaskan banyak fenomena sosial hingga menunjukkan kausalitas hal-hal yang sebelumnya kita anggap tidak berhubungan.

Entah kenapa saya menjadi ragu apakah mampu suatu saat menjadi seorang ekonom. Seakan-akan semua isi buku teks dan non-teks ekonomi tak ubahnya pisau tumpul.Semangat ingin tahu sembunyi di lubang kemalasan yang dalam . Keberanian mengutak-atik teori-teori “ruang kelas” ke kehidupan nyata tenggelam di tengah tumpukan ketakutan akan “deadline” wisuda.

Masih banyak penyakit-penyakit yang menjangkiti tubuh ekonom saya. Masih ada “katarak” yang memburamkan mata . Masih ada “dahak”yang menyumpal tenggorokan untuk sekedar menyatakan pendapat. Kulit yang“kapalan” sehingga tidak peka lagi terhadap hembusan isu-isu ekonomi sehari-hari. Dengan kondisi “sakit-sakitan” ini, wajar keraguan makin kuat saja.

Entah apa atau siapa yang salah. Mudah saja menuduh sistem kurikulum kita yang menumpulkan mahasiswa. Mahasiswa menjadi tahanan pendidikan bukannya insan pendidikan yang kreatif dan intuitif. Tidak perduli apakah itu lecturing atau SCL, semua hanya label dan buang-buang anggaran pendidikan.Namun, bisa jadi semua justru karena faktor, yang para sosiolog bilang sebagai sindrom “kepribadian yang kerdil” yang jadi parasit di tubuh mahasiswa saya sekarang. Malas untuk maju, dan takut untuk belajar.

Penuh penyakit dan busuk, tapi setidaknya ini jadi bentuk penelanjangan diri yang jujur atas kehidupan yang sudah hampir dua tahun dijalani. Daripada harus menjadi hipokrit, dan terus menjalani hidup dengan bebal, hidup seperti yang digambarkan Kahlil Gibran dalam “daki bersepuh emas”. Yahh..berubah adalah jawaban paling tepat, selalu ada kesempatan kedua. Seperti kata om Rheinald Kasali, “…Sejauh apapun anda salah arah, segeralah berbalik…”. Untungnya, di sebuah ruang lt.1. Gedung Student Center, FEUI,
masih ada “kawah candradimuka” (bukan promosi), tempat merajut lagi mimpi saya menjadi ekonom. Tentu maksudnya ekonom “sungguhan”… bukan sekedar ekonom politis!

Read More ..